Posted by: jbsitorus | November 23, 2007

Pemuda dan burung beo

Seorang pemuda memelihara seekor burung beo. Dia melatihnya berkali-kali sampai akhirnya dapat mengucapkan, “Hallo Tuan, apa kabar?” Sejak itu, setiap tuannya lewat di sekitarnya, si beo pasti menyapa, “Hallo Tuan, apa kabar?”

Burung beo tersebut ditempatkan di dalam kandang di dalam rumah.

Suatu pagi di hari Senin, si pemuda bangun kesiangan, pukul 07.20 WIB. Padahal dia harus masuk kerja pukul 08.00 WIB. Merasa kebakaran jenggot, si pemuda segera bergegas, mandi, berpakaian dan berangkat dengan motornya menuju kantor. Sekitar sepuluh menit setelah dia berjalan, dia baru ingat kalau tas kerja yang setiap hari dia bawa, tertinggal di rumah. Tanpa pikir panjang, dia kembali lagi ke rumah.

Di dalam rumah, si pemuda mondar-mandir mencari tas kerjanya. Dia masuk ke ruang tamu dan melewati beo, si beo menyapa, “Hallo Tuan, apa kabar?” Karena kesal si pemuda menjawab, “Sialan Lu!” Dalam hati dia berkata, ‘orang lagi bingung masih digodain segala’. Di ruang tamu dia tak menemukan tas kerjanya, lalu dia masuk kamar tidur, lagi-lagi melewati si beo dan mendapat sapaan, “Hallo Tuan, apa kabar?” Si pemuda yang kesal dan bingung menjawab, “Sialan Lu!” Eh…di kamar tidur, dia juga tidak menemukan tasnya. Lalu dia mencoba mencari ke ruang makan. Lagi-lagi melewati beo dan mendapat sapaan, “Hallo Tuan, apa kabar?”  Dan pemuda itu lagi-lagi menjawab dengan ketus, “Sialan Lu!” Akhirnya pemuda itu menemukan juga tasnya yang ternyata tergeletak di kursi makan.

Tanpa pikir panjang dia bergegas untuk kembali ke kantor, tapi kali ini dia melewati si beo lagi dan mendapat sapaan yang membuat dia kesal. Dia pun menjawab, “Sialan Lu!”

Singkat cerita, sorenya si pemuda kembali dari kantor dengan perasaan lega. Semua pekerjaannya hari itu berjalan lancar. Dia hanya mendapat teguran karena terlambat masuk kantor. Setibanya di rumah, ketika masuk dan melewati si beo, dia heran karena tak biasanya, kok si beo diam saja. Lalu, si pemuda mencoba untuk menyapa si beo yang diam terpana itu, “Hallo beo, apa kabar? Kok diam saja?” Tak disangka dan diduga, si beo menjawab, “SIALAN LU!”

Makna cerita:

Dalam keseharian, kita tanpa sadar sering mengeluarkan kata atau kalimat yang tidak kita pertimbangkan akibatnya apa di kemudian hari. Hal ini sangat berbahaya, apalagi bila kata atau kalimat itu kita ucapkan kepada anak-anak, sebab mereka pada dasarnya belum dapat menyaring atau memilah mana kata yang baik dan tidak. Tak ubahnya seperti beo, mereka mendengar, lalu menirukannya. Kalau dia mendengar kata atau kalimat yang baik, tidak jadi masalah, tapi kalau dia mendengar kata yang tidak baik atau sopan, lalu dia tiru dan diucapkan kepada orang lain, apa jadinya?

Demikianlah, kita semua hendaknya perlu berhati-hati dalam berbicara, terutama kepada anak-anak. Ada baiknya memikirkan dulu apa akibatnya di kemudian hari.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: